Layar Kaca Rumah Tangga
Perlahan kerumunan orang berpakaian hitam-hitam itu membubarkan diri. Pendeta menutup doa diaminkan semua jamaah di sana. Beberapa orang di antara pengantar menggumamkan tentang kejadian tabrak lari yang meremukkan kepala Benigno, lelaki yang baru saja selesai dikuburkan. Aku mendekati istrinya, Anne.
“Aku turut berduka cita.” Kataku membuka percakapan.
“Makasih ya Don.” Anne menjawab dengan suara bergetar. Matanya yang ditutupi kacamata hitam itu pastilah merah dan bengkak, efek menangis semalaman.
“Kamu langsung pulang?” Tanyanya.
“Iya, aku ada rapat siang ini.” Jawabku.
“Aku antar ke mobil.” Anne menawarkan. Beriringan kami menuju mobilku yang diparkir cukup jauh di pintu depan komplek pemakaman.
“Don, terimakasih mau datang. Aku kira kamu masih marah, masih dendam dengan Ben.” Anne melihatku. Memastikan ekspresi seperti apa yang terlihat di wajahku. Aku tersenyum.
“Aku sempat sakit hati. Kejadian istri selingkuh dengan sahabat sendiri itu, cukup drama dan menimbulkan trauma…” Aku menarik nafas panjang.
“Maaf… Aku bukan…” Anne memotong tergagap.
“Tidak. Tidak apa. Yang sudah biar, sudah. Tidak ada dendam atau sakit hati lagi. Mungkin dulu aku yang memang tidak cukup baik untuk kamu. Sudah, aku sudah memaafkanmu sejak lama.” Aku menghentikan langkah tepat di samping mobil.
“Sekarang pun, sudah memaafkan Ben.” Sambungku lagi, sambil tersenyum. Anne tersenyum menatapku.
“Kamu… Seharusnya aku tidak pernah melakukan itu padamu.” Anne menunduk.
“Sudahlah, jangan disesali. Aku sudah berubah. Bukan lagi Donne si temperamen posesif yang mengikatmu. Kamu bebas, Anne. Bebas memilih. Aku selalu di sini. Dan Benny tetap sahabatku. Mudah-mudahan dia beristirahat dengan tenang.” Aku meyakinkannya.
“Amin.” Anne tersenyum.
Aku pamit terakhir kali padanya. Membuka pintu mobil dan bersiap pergi.
“Don? Ini kenapa di ban kok ada bekas darah?” Tanya Anne dengan kening berkerut. Aku membuka kacamata dan menjawab dengan santai,
“Oh, itu kemarin aku nabrak kucing.” Anne menggumamkan komentar singkat. Aku tersenyum dan mengakhiri pembicaraan. Pergi meninggalkan mantan istriku yang sekarang resmi menjadi janda.
Medan, 19 Juli 2010

