asumsi
“ Tabrak lari ! Ah..ha, if it bleeds, it leads.“ kata kameramenku.
Tapi kesumringahannya lesap seketika kerumunan manusia yang tertarik telah berubah menjadi pagar betis.
“ Tenang, aku punya akal. “ kataku.
Aku menyeruak kedalam kerumunan meniru gerakan perenang gaya dada,“ tolong minggir, kami keluarga korban. “ kataku.
Mendadak beberapa wajah paling depan berpaling, tak percaya? Hening, namun sebuah lorong dibuka, berhasil mengantarku tepat ketempat dimana korban berada.
Keheningan berlalu. Satu persatu orang mulai tertawa. Ironisnya, aku juga ingin tertawa seperti mereka. Namun tak mudah bagiku untuk tertawa dengan mulut menganga, memandangi seekor kambing tak bernyawa tergolek tepat diujung kakiku.
By: anto